4 September 2026
Penyakit Utama Negeri Ini: Tidak Tau Diri

Ada satu penyakit yang lebih kronis dari inflasi, lebih menular dari flu musiman, dan anehnya tidak pernah masuk daftar Kementerian Kesehatan. Namanya: tidak tau diri. Penyakit ini menjangkiti dari ruang ber-AC di gedung dewan sampai warung kopi pinggir jalan. Semua kena, cuma gejalanya beda-beda.
Gejala Pertama: Kaya Sumber Daya, Miskin Rasa Malu
Coba bayangkan begini. Ada satu keluarga yang tanahnya luas, di bawahnya ada emas, nikel, batu bara, gas. Tapi anggota keluarganya makan nasi aking sementara tamu yang datang pulang bawa mobil. Itu ironi yang sudah jadi rutinitas di negeri ini.
Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar dunia, penghasil batu bara papan atas, punya hutan tropis yang jadi paru-paru dunia. Tapi anehnya, kekayaan itu sering lebih dulu dirasakan oleh yang punya akses ke kekuasaan ketimbang rakyat di sekitar tambang. Desa yang tanahnya dikeruk siang malam, listriknya masih byar-pet. Sungainya yang dulu jernih, sekarang warnanya seperti kopi susu tapi bukan buat diminum.
Ini bukan soal sumber dayanya kurang. Ini soal siapa yang lebih dulu antre di depan kasir kekayaan itu, dan siapa yang cuma dapat sisa remah-remahnya.
Gejala Kedua: Korupsi sebagai Bentuk Rasa "Kurang Bersyukur" yang Diinstitusionalisasi
Ada yang bilang, korupsi itu soal moral. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, korupsi itu sebenarnya bentuk syukur yang salah alamat. Sudah dikasih jabatan, gaji, tunjangan, fasilitas dinas, eh masih merasa kurang. Akhirnya nyolong lagi dari yang bukan haknya.
Ironisnya, yang dikorupsi itu bukan barang milik pribadi presiden atau bupati. Itu duit rakyat, duit yang harusnya jadi jalan, jadi sekolah, jadi puskesmas, jadi beasiswa anak-anak yang orang tuanya kerja serabutan. Setiap rupiah yang masuk kantong pribadi lewat jalur gelap itu, ada anak yang kehilangan kesempatan sekolah, ada ibu yang gagal berobat, ada desa yang jalannya tetap becek sampai bertahun-tahun.
Yang lebih menyedihkan, ketika ketahuan, alasannya klise semua: khilaf, tidak tahu prosedur, atau yang paling ajaib, "demi partai". Tidak tau diri levelnya sudah naik kelas jadi tidak tau malu.
Gejala Ketiga: Rakyat yang Gampang Dininabobokan
Tapi jangan buru-buru merasa jadi korban seratus persen. Karena penyakit "tidak tau diri" ini juga menjalar ke masyarakat sendiri.
Berapa banyak dari kita yang rela jual suara di pemilu cuma demi sembako atau selembar uang seratus ribu? Padahal suara itu menentukan nasib lima tahun ke depan, sementara sembakonya habis dalam seminggu. Setelah itu, protes lagi kenapa yang dipilih tidak amanah. Lho, siapa yang pilih?
Belum lagi soal gampangnya termakan janji manis di panggung kampanye. Padahal kalau dicek rekam jejaknya, janji yang sama sudah diucapkan lima tahun lalu, dan sepuluh tahun sebelum itu juga. Tapi karena disampaikan dengan gaya bicara yang meyakinkan, ditambah baju kotak-kotak atau kemeja putih yang difoto lagi salaman sama orang susah, rakyat langsung percaya.
Ini bukan soal rakyat bodoh. Ini soal rakyat yang kadang malas berpikir kritis, lalu menyerahkan nasibnya begitu saja ke tangan orang yang pandai bersandiwara.
Gejala Keempat: Peluang di Depan Mata, Tapi Dibiarkan Lewat
Yang bikin makin miris, banyak peluang yang sebenarnya ada di depan mata, tapi tidak dimanfaatkan.
Generasi muda punya akses internet, tapi lebih banyak dipakai untuk scroll konten hiburan ketimbang belajar skill baru. Ada program beasiswa, tapi informasinya kalah viral dibanding gosip artis. Ada potensi UMKM lokal yang sebenarnya bisa naik kelas, tapi kalah bersaing karena malas berinovasi, atau lebih memilih jalan pintas ketimbang membangun kualitas.
Bahkan di level kebijakan, banyak potensi ekonomi yang harusnya bisa diolah sendiri oleh anak bangsa, malah lebih nyaman diserahkan ke pihak asing karena dianggap lebih praktis dan cepat untung. Padahal kalau mau sedikit bersabar dan berinvestasi di riset serta pendidikan, hasil jangka panjangnya bisa jauh lebih besar untuk rakyat sendiri.
Akibatnya, negeri yang sebenarnya kaya raya ini tetap saja berkutat dengan kemiskinan, karena peluang yang ada terus-menerus disia-siakan, baik oleh yang berkuasa maupun oleh masyarakat yang menikmati zona nyaman.
Jadi, Siapa yang Salah?
Gampang sekali menuding pejabat sebagai biang keladi. Tapi kalau introspeksi sedikit, rakyat juga punya andil dalam melanggengkan siklus ini. Pejabat nggak tau diri karena rakyatnya membiarkan. Rakyat dibodohi karena malas mencari tahu. Sumber daya alam dikeruk habis-habisan karena semua pihak, dari atas sampai bawah, sama-sama ingin untung instan tanpa mau capek membangun sistem yang lebih adil.
Penyakit "tidak tau diri" ini sebenarnya sederhana obatnya: sadar diri. Pejabat sadar bahwa jabatan itu amanah, bukan warisan keluarga. Rakyat sadar bahwa suara dan pilihannya menentukan masa depan, bukan sekadar transaksi sesaat. Semua pihak sadar bahwa kekayaan alam ini adalah titipan untuk anak cucu, bukan jatah pribadi untuk generasi sekarang saja.
Sampai kesadaran itu tumbuh, jangan heran kalau negeri yang katanya "gemah ripah loh jinawi" ini tetap saja terjebak dalam siklus kemiskinan di tengah kelimpahan. Karena pada akhirnya, kekayaan sumber daya alam yang melimpah tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan bangsa yang lupa cara bersyukur dan malas untuk sadar diri.
Butuh pendampingan langsung untuk bagian ini?
Konsultasi Sekarang