30 Agustus 2026
Muktamar NU Rusuh: Pentingnya Belajar Dewasa dalam Berorganisasi Demi Kemaslahatan Umat

Seperti diberitakan Kompas.com, Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, diwarnai aksi kerusuhan pada Minggu (30/8/2026). Massa yang menyuarakan protes terhadap syarat pencalonan Ketua Umum PBNU merangsek menembus petugas keamanan lokal, hingga terjadi saling adu jotos, saling dorong, dan sebuah spanduk di sisi timur lokasi acara robek. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 13.40 WIB, saat sidang tengah membahas Tata Tertib yang berkaitan dengan syarat calon Ketua Umum PBNU, sebuah perdebatan yang akhirnya tak menemui titik temu dan membuat sidang diskors.
Kabar ini menampar rasa kita bersama. Bukan karena kita tidak biasa melihat friksi dalam organisasi besar, tetapi karena forum ini adalah forum keluarga besar Nahdlatul Ulama, rumah bersama jutaan Nahdliyin yang selama ini dikenal mengedepankan tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). Ketika rumah sendiri diguncang huru-hara, yang terluka bukan hanya bangunan tata tertib sidang, melainkan kepercayaan umat pada wibawa organisasinya.
Ketika Forum Suci Kehilangan Keteduhannya
Muktamar semestinya adalah panggung kedewasaan tertinggi sebuah organisasi keagamaan. Ia adalah ruang di mana perbedaan pandangan dipertemukan dalam adab musyawarah, bukan diadu dalam benturan fisik. Tapi yang terjadi di Jombang mengingatkan kita bahwa kedewasaan berorganisasi tidak datang otomatis hanya karena usia organisasi yang sudah lebih dari satu abad. Kedewasaan itu harus terus-menerus dirawat, dilatih, dan diperjuangkan oleh setiap generasi yang mewarisi amanahnya.
Ada semacam ironi yang menyayat di sini. NU adalah organisasi yang lahir dari rahim pesantren, tempat di mana adab selalu ditempatkan di atas ilmu, dan ilmu selalu ditempatkan di atas ambisi. Namun ketika soal kepemimpinan mulai bersentuhan dengan kepentingan politik dan kelompok, adab itu kadang tergerus oleh nafsu untuk menang. Ini bukan aib yang unik milik NU. Ini adalah ujian yang dihadapi hampir semua organisasi besar di dunia, ketika kekuasaan sudah cukup besar untuk diperebutkan, maka godaan untuk menghalalkan segala cara pun ikut membesar.
Belajar dari Keteduhan Muhammadiyah
Di titik inilah kita perlu jujur menoleh pada saudara seiman yang sering menjadi mitra dialog NU dalam merawat umat: Muhammadiyah. Selama ini, suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah dikenal berjalan dengan sistem kolektif kolegial, di mana pemimpin tertinggi organisasi dipilih bukan lewat pertarungan personal yang menegangkan, melainkan melalui musyawarah formatur yang telah lebih dulu dipilih secara bersama. Prosesnya berlangsung penuh keteduhan, minim gesekan terbuka, dan diselenggarakan dengan transparansi serta dukungan digitalisasi yang membuat setiap tahapan dapat dipertanggungjawabkan.
Ini bukan ajakan untuk membandingkan mana organisasi yang "lebih baik". NU dan Muhammadiyah adalah dua entitas dengan sejarah, kultur, dan basis massa yang berbeda, dan keduanya sama-sama telah menjadi pilar peradaban Islam Indonesia. Tapi belajar dari keberhasilan sesama saudara bukanlah aib, justru itulah esensi dari semangat ukhuwah Islamiyah yang selama ini didakwahkan kedua organisasi ini. Jika sebuah sistem suksesi terbukti mampu meredam ambisi personal dan mengedepankan mekanisme kolektif yang lebih tenang, tidak ada salahnya NU membuka ruang refleksi: mekanisme mana yang lebih menjaga marwah organisasi di masa depan, sambil tetap menghormati tradisi ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang sudah menjadi bagian dari identitas NU sendiri.
Kedewasaan Bukan soal Usia, tapi soal Kesediaan Menahan Diri
Belajar dewasa dalam berorganisasi sesungguhnya sangat sederhana definisinya, meskipun sulit dalam praktiknya: mampu menerima hasil musyawarah meskipun tidak sesuai keinginan, dan mampu menahan diri ketika emosi kolektif sedang memuncak. Kedewasaan bukan berarti tidak boleh punya preferensi terhadap calon pemimpin. Setiap Nahdliyin tentu punya harapan siapa figur yang layak memimpin PBNU ke depan. Yang membedakan organisasi dewasa dari organisasi yang rapuh adalah bagaimana harapan itu disalurkan, lewat argumentasi dan jalur konstitusional, bukan lewat kerumunan yang menerobos barikade.
Ada pelajaran penting bagi para elite dan simpatisan di lapangan: energi jamaah yang begitu besar, yang datang dari berbagai penjuru daerah dengan biaya dan pengorbanan yang tidak sedikit, semestinya diarahkan untuk menjaga muruah organisasi, bukan justru dipakai sebagai kekuatan tekanan terhadap proses persidangan. Ketika massa pendukung dimobilisasi hingga mendekati titik kekerasan, yang dipertaruhkan bukan cuma kemenangan seorang calon, tetapi kepercayaan publik terhadap keseluruhan proses regenerasi kepemimpinan umat.
Ini juga menjadi renungan bagi para tokoh senior dan kiai sepuh yang selama ini menjadi rujukan moral NU. Suara-suara yang mengingatkan untuk menjaga muruah organisasi dan menghindari tekanan dalam proses suksesi perlu terus digaungkan, sebab pada akhirnya, wibawa sebuah organisasi keagamaan tidak diukur dari seberapa besar massa yang bisa dikerahkan, melainkan dari seberapa tenang ia mampu menyelesaikan perbedaan di antara anak-anaknya sendiri.
Transparansi dan Digitalisasi sebagai Jalan Keluar
Salah satu akar dari kerusuhan seperti ini biasanya adalah ruang abu-abu dalam aturan main, celah tafsir yang membuat sebagian pihak merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil. Di sinilah pentingnya organisasi sebesar NU untuk terus mendorong transparansi proses, termasuk keterbukaan verifikasi syarat calon, publikasi tahapan sidang secara real time, dan pemanfaatan teknologi digital untuk meminimalkan ruang kecurigaan. Ketika seluruh proses dapat diakses dan dipantau bersama, ruang untuk fitnah dan prasangka akan menyempit dengan sendirinya.
Digitalisasi bukan sekadar soal efisiensi administratif. Ia adalah instrumen untuk membangun kepercayaan (trust), sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh organisasi manapun yang ingin suksesi kepemimpinannya diterima dengan lapang dada oleh seluruh elemen anggotanya.
Menyongsong Kepemimpinan Baru dengan Hati yang Bersih
Apa pun hasil akhir dari Muktamar ke-35 NU ini, siapa pun yang kelak terpilih memimpin PBNU, tugas terbesar yang menanti bukan sekadar menyusun kepengurusan, melainkan menyembuhkan luka kolektif yang tercipta dari peristiwa Jombang ini. Dibutuhkan kebesaran hati dari semua pihak, yang menang untuk merangkul yang kalah, dan yang merasa dirugikan untuk berlapang dada menerima hasil musyawarah, demi menjaga NU tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh umat.
Kemaslahatan umat, pada akhirnya, tidak pernah lahir dari kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Ia lahir dari kesediaan bersama untuk menahan ego demi kepentingan yang lebih besar. Itulah inti dari belajar dewasa dalam berorganisasi, sebuah pelajaran yang tidak pernah selesai, dan harus terus diulang oleh setiap generasi yang mencintai rumah besarnya.
Semoga peristiwa ini menjadi titik balik, bukan sekadar catatan kelam yang dilupakan begitu muktamar usai. Sebab NU terlalu besar dan terlalu berharga bagi umat untuk dibiarkan terluka oleh kerumunan yang lupa jalan pulang menuju musyawarah.
Butuh pendampingan langsung untuk bagian ini?
Konsultasi Sekarang