16 Agustus 2026
Pentingnya Berpidato, yang Penting Berpidato

Ada satu keahlian yang sepertinya wajib dimiliki setiap pejabat di negeri ini, jauh melampaui kemampuan mengelola anggaran atau menyusun sebuah kebijakan: kemampuan berdiri di depan mikrofon selama empat puluh lima menit tanpa benar-benar mengatakan apa-apa.
Ini bukan bakat sembarangan. Coba saja Anda sendiri disuruh naik podium, dikepung kamera, disorot lampu, lalu diminta bicara panjang lebar tentang "visi besar bangsa" tanpa draft yang jelas. Kebanyakan orang akan gugup, kehabisan kata dalam tiga menit, lalu turun panggung dengan wajah lega. Tapi tidak dengan para pejabat kita. Mereka justru berkembang biak dalam situasi seperti itu. Semakin sedikit persiapan, semakin panjang durasinya.
Ilmu Mengarang Bebas dengan Percaya Diri Penuh
Ada semacam rumus tak tertulis dalam pidato-pidato semacam ini. Mulai dengan data yang terdengar meyakinkan meski sumbernya tidak jelas dari mana. Lanjutkan dengan analogi yang sebenarnya tidak nyambung tapi disampaikan dengan nada yakin sehingga penonton ikut manggut-manggut. Tutup dengan kalimat heroik tentang masa depan bangsa, walau isi pidatonya sendiri tidak menjelaskan bagaimana caranya sampai ke sana.
Yang menarik, publik pun lama-lama terbiasa. Ada semacam kesepakatan tak tertulis antara pembicara dan pendengar: yang penting acara berjalan, yang penting ada yang bicara, soal isi belakangan. Substansi jadi barang mewah yang tidak selalu tersedia, sementara "yang penting tampil" jadi standar minimum yang selalu terpenuhi setiap momen berpidato.
Ketika Kefasihan Mengalahkan Kejelasan
Fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal individu, tapi soal budaya politik yang menghargai penampilan di atas substansi. Kita cenderung menilai pejabat dari seberapa lancar dan berapi-api ia bicara, bukan dari seberapa jelas dan bisa dipertanggungjawabkan isi yang ia sampaikan. Maka lahirlah generasi pembicara yang piawai merangkai kalimat panjang berbunga-bunga, tapi begitu ditanya "maksudnya apa, Pak?", jawabannya berputar-putar lagi ke kalimat berbunga yang sama.
Ironisnya, keterampilan ini justru sering dianggap sebagai bukti kepemimpinan. Semakin panjang bicara tanpa teks, semakin dianggap menguasai forum. Semakin banyak istilah asing yang dilontarkan meski tidak selalu pas konteksnya, semakin dianggap berwawasan luas. Padahal, bicara panjang tanpa arah justru bisa jadi tanda sebaliknya: tidak ada yang benar-benar ingin disampaikan, hanya ada keinginan untuk terlihat sedang menyampaikan sesuatu.
Ketika Ngawur Jadi Gaya, Bukan Kesalahan
Yang lebih menarik lagi, ketika pidato semacam ini viral karena kejanggalannya, alih-alih dikritik, ia justru sering dirayakan sebagai "ciri khas" atau "gaya blak-blakan yang apa adanya". Kesalahan fakta dibungkus jadi kelucuan. Ketidaknyambungan logika dijual sebagai kejujuran yang tidak dibuat-buat. Kita, sebagai publik, ikut menertawakan sambil diam-diam menormalkan bahwa memang begitulah cara pejabat berbicara di panggung: asal jalan, asal ramai, asal jadi bahan obrolan publik di media sosial.
Padahal, pidato bukan sekadar ajang unjuk gigi di depan kamera. Ia semestinya jadi wadah pertanggungjawaban gagasan, tempat pejabat menjelaskan arah kebijakan dengan bahasa yang bisa dipahami dan dipertanggungjawabkan. Ketika pidato berubah jadi sekadar pertunjukan retorika tanpa isi, yang hilang bukan cuma kualitas komunikasi publik, tapi juga kepercayaan bahwa kata-kata pejabat memang punya makna dan konsekuensi.
Penutup yang (Semoga) Ada Substansinya
Mungkin sudah saatnya kita mengubah standar penilaian. Bukan seberapa lama seseorang bisa bicara tanpa teks, bukan pula seberapa banyak istilah rumit yang bisa dilontarkan dalam satu tarikan napas. Melainkan: seberapa jelas gagasan itu tersampaikan, dan seberapa bisa dipertanggungjawabkan apa yang diucapkan.
Karena pada akhirnya, pidato yang baik bukan soal seberapa panjang atau seberapa berapi-api ia disampaikan. Tapi soal apakah, setelah semua kata itu selesai diucapkan, kita benar-benar tahu apa yang baru saja dijanjikan kepada kita — atau justru pulang dengan pertanyaan yang sama seperti sebelum pidato dimulai.
---
Catatan: Tulisan ini adalah refleksi satir terhadap fenomena umum dalam budaya pidato politik pejabat publik, bukan ditujukan pada tokoh tertentu. Terutama tidak hanya sindiran untuk presiden saja, tapi semuanya yang jadi pejabat publik tolong kalau sedang berpidato penting sekali memahami pentingnya berpidato, tidak hanya yang penting berpidato saja.
Butuh pendampingan langsung untuk bagian ini?
Konsultasi Sekarang