12 Agustus 2026
Lelahnya Mengharap Validasi Itu

Pernah nggak, kamu upload foto atau story diri, terus tiap lima menit buka lagi untuk cek siapa yang sudah nge-like? Atau bikin keputusan besar dalam hidup, tapi yang pertama kali kepikiran bukan "apa ini baik buat aku", melainkan "nanti orang-orang bakal mikir apa ya?"
Kalau iya, kamu nggak sendirian, malah aku juga sering. Dan tulisan ini mungkin untuk aku dan kamu.
Validasi: Kebutuhan yang Diam-Diam Menjajah
Manusia memang makhluk sosial. Wajar kalau kita butuh diterima, butuh diakui, butuh didengar. Tapi ada garis tipis antara "dibutuhkan" dan "dijadikan sandaran hidup". Ketika validasi orang lain berubah jadi kompas utama arah hidup kita, di situlah kelelahan mulai tumbuh.
Coba jujur sama diri sendiri:
- Kamu pilih jurusan kuliah karena passion, atau karena takut dianggap "gagal" di mata keluarga dan teman?
- Kamu posting foto/sesuatu karena ingin berbagi inspirasi, atau karena mengharap validasi berupa like dan komentar orang lain?
- Kamu diam saat disakiti, karena takut dicap "baperan" atau "nggak asik"?
Kalau banyak jawabannya condong ke pilihan kedua, wajar rasanya kalau kamu merasa lelah. Sebab kamu sedang hidup untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri, apalagi untuk Allah SWT.
Kenapa Rasanya Melelahkan?
Karena validasi manusia itu nggak pernah stabil. Hari ini kamu dipuji, besok bisa jadi kamu akan dicibir. Standar orang berubah-rubah, seleranya beda-beda, ekspektasinya nggak pernah ada habisnya. Kamu bisa lelah seumur hidup mengejar sesuatu yang bentuknya saja terus berubah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya." (QS. Yusuf: 103)
Ayat ini semacam pengingat halus: bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tidak bisa memuaskan hati semua orang. Lalu bagaimana mungkin kita, yang jauh dari sempurna, berharap bisa disukai semua orang?
Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA:
"Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
Ketika Fokus Kita Salah Alamat
Ada satu hal yang sering kita lupa: hidup ini sebenarnya sedang "diawasi" oleh Yang lebih layak untuk dibuat senang, yaitu Allah. Bukan followers, bukan circle pertemanan, bukan mantan yang mungkin masih suka stalking media sosial kamu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa mencari ridha Allah dengan risiko kemarahan manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Namun barangsiapa mencari ridha manusia dengan risiko kemarahan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya." (HR. Tirmidzi)
Bayangkan, sudah capek-capek mengejar validasi manusia, tapi kalau salah niat malah bisa mendatangkan murka Allah. Rugi dua kali: lelah fisik, lelah hati, dan lelah akhirat.
Lalu, Kita Harus Bagaimana?
Bukan berarti kita jadi cuek sama pendapat orang lain sepenuhnya, ya. Yang perlu diubah itu "posisinya", bukan dihapus sama sekali.
1. Geser pusat validasi ke Allah.
Sebelum bertindak, tanya dulu: "Ini bikin Allah ridha nggak?" Bukan "ini bikin orang lain terkesan nggak?"
2. Ingat, manusia itu terbatas.
Yang menilai kamu hari ini belum tentu tahu perjuanganmu semalam. Penilaian mereka terbatas pada apa yang terlihat, sedangkan Allah tahu isi hati.
3. Biasakan sedikit "menyendiri" dari media sosial.
Bukan buat kabur dari dunia, tapi biar kamu punya waktu mendengar dirimu sendiri tanpa gangguan notifikasi dan standar orang lain.
4. Perbanyak doa dan zikir untuk menenangkan hati.
Allah berfirman:
"...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ketenangan yang dicari lewat validasi manusia sifatnya sementara. Tapi ketenangan dari mengingat Allah, itu yang bertahan lama.
5. Sadari bahwa dirimu berharga bukan karena diakui, tapi karena diciptakan dengan sebaik-baik bentuk.
Allah sudah berkata dalam QS. At-Tin ayat 4 bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Nilai dirimu itu sudah given dari awal, bukan sesuatu yang harus kamu buktikan lewat jumlah like.
Penutup
lelah boleh, tapi jangan sampai lelahnya salah arah. Kamu boleh berhenti berusaha membuat semua orang senang, karena memang itu mustahil. Yang lebih realistis, dan jauh lebih menenangkan, adalah fokus membuat Allah ridha. Karena kalau Allah sudah ridha, biasanya hati juga ikut jadi lapang, meskipun belum tentu semua orang setuju sama pilihan hidup kita.
Jadi, mulai hari ini, coba deh pelan-pelan geser dan tinggalkan jauh-jauh standar itu. Bukan lagi "apa kata orang", tapi "apa kata Allah". Insya Allah, lelahnya jadi lebih ringan, aku yakin itu. Selamat mencoba kamu sekalian, semoga bisa.
Butuh pendampingan langsung untuk bagian ini?
Konsultasi Sekarang