Logo Konco Lulus IDKONCO LULUS ID
Kembali ke semua artikel

6 September 2026

Dilahirkan Seorang Ibu, Dibesarkan Algoritma

Dilahirkan Seorang Ibu, Dibesarkan Algoritma

Ada satu momen yang mungkin akrab bagi banyak orang tua zaman sekarang: anaknya menangis, lalu dengan sigap disodorkanlah gawai berisi video animasi warna-warni. Tangis pun reda dalam hitungan detik. Praktis, cepat, dan diam-diam jadi kebiasaan.

Dari titik kecil semacam itulah judul ini lahir: dilahirkan seorang ibu, dibesarkan algoritma. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak berhenti sejenak dan melihat lebih jernih apa yang sebenarnya sedang terjadi pada cara generasi ini tumbuh.

Generasi yang Tumbuh di Dua Dunia

Anak muda hari ini adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh besar berdampingan dengan layar sejak usia sangat dini. Bukan sekadar menonton televisi seperti generasi sebelumnya, tapi berinteraksi dengan sistem yang belajar dari mereka, lalu balik menyodorkan apa yang "menurutnya" mereka suka.

Ironisnya, sistem itu sering kali lebih paham selera musik, gaya bicara, bahkan suasana hati seorang anak dibanding orang tuanya sendiri. Algoritma tahu kapan harus menampilkan video lucu untuk menghibur, kapan menyodorkan konten yang bikin scroll tanpa henti, kapan memicu rasa cemas lewat perbandingan dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna.

Ibu melahirkan dengan darah dan taruhan nyawa. Tapi yang membentuk cara berpikir, selera, bahkan nilai-nilai anak sehari-hari, kerap kali bukan lagi nasihat di meja makan—melainkan rekomendasi otomatis di linimasa media sosial.

Orang Tua yang Juga Sedang Belajar

Penting untuk adil di sini: orang tua zaman sekarang bukan generasi yang malas atau tidak peduli. Banyak dari mereka justru generasi yang paling banyak mencari informasi soal parenting, paling sering merasa bersalah karena sibuk kerja, dan paling sering bertanya-tanya apakah cara mereka membesarkan anak sudah benar.

Masalahnya, mereka juga dibesarkan dengan cara yang sangat berbeda—tanpa gawai, tanpa notifikasi, tanpa tekanan menjadi "relevan" di dunia maya. Ketika anak-anak mereka justru tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital, banyak orang tua merasa kehilangan pegangan. Aturan lama terasa tidak lagi berlaku, sementara aturan baru belum juga jelas bentuknya.

Alhasil, gawai sering menjadi jalan pintas yang paling mudah: solusi instan untuk anak yang rewel, cara termudah menjaga anak tetap tenang saat orang tua kelelahan, atau bahkan bentuk kompensasi karena waktu bersama yang terasa kurang.

Ketika Validasi Datang dari Layar

Bagi banyak anak muda, rasa percaya diri kini ikut dibentuk oleh angka—jumlah like, jumlah followers, komentar yang muncul di kolom bawah unggahan. Algoritma dirancang untuk membuat orang terus kembali, terus mencari validasi, terus membandingkan diri dengan standar yang sebenarnya tidak nyata.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: siapa yang sebenarnya sedang membesarkan generasi ini? Nilai-nilai kesabaran, empati, dan kepercayaan diri semestinya tumbuh dari interaksi manusia—dari pelukan orang tua, dari teguran yang penuh kasih, dari percakapan panjang yang kadang membosankan tapi bermakna. Namun ketika waktu bersama keluarga makin tergerus, ruang itu perlahan diisi oleh sistem yang tujuannya bukan mendidik, melainkan mempertahankan perhatian selama mungkin.

Bukan Soal Menyalahkan Teknologi

Menuding algoritma sebagai biang keladi semua masalah juga terlalu sederhana. Teknologi bukan musuh—ia hanya alat, dan alat mengikuti cara ia digunakan. Yang perlu dipertanyakan justru ruang di antaranya: seberapa besar ruang yang masih tersisa untuk kehadiran manusia di tengah kemudahan yang ditawarkan algoritma?

Anak muda tidak sepenuhnya dibesarkan oleh algoritma. Mereka juga dibesarkan oleh guru yang masih peduli, teman yang mau mendengarkan, dan orang tua yang—meski lelah dan penuh keraguan—tetap berusaha hadir. Algoritma hanya mengisi celah yang ditinggalkan, dan celah itu akan makin kecil kalau kehadiran manusia makin diperjuangkan.

Menemukan Kembali Ruang untuk Hadir

Barangkali yang dibutuhkan bukan menyingkirkan gawai sepenuhnya—itu mustahil di dunia sekarang—melainkan menyeimbangkan kembali siapa yang paling banyak "berbicara" pada anak. Beberapa hal sederhana bisa menjadi awal:

- Menyediakan waktu tanpa layar, sekecil apa pun, sebagai ruang percakapan yang nyata.
- Menunjukkan rasa ingin tahu pada dunia anak, termasuk dunia digitalnya, alih-alih hanya melarang.
- Menjadi teladan penggunaan gawai yang sehat, karena anak lebih banyak meniru daripada mendengar nasihat.
- Membangun kembali kebiasaan kecil bersama—makan tanpa gawai, mengobrol sebelum tidur, jalan sore tanpa ponsel di tangan.

Perubahan besar jarang datang dari keputusan dramatis. Lebih sering, ia lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus.

Penutup

"Dilahirkan seorang ibu, dibesarkan algoritma" bukanlah vonis final, melainkan pengingat. Pengingat bahwa di tengah dunia yang makin digital, kehadiran manusia—terutama orang tua—tetap menjadi kebutuhan paling mendasar bagi setiap anak yang sedang tumbuh.

Algoritma boleh saja pandai menghibur dan mengisi waktu luang. Tapi ia tidak pernah bisa menggantikan pelukan, tatapan mata, atau percakapan hangat yang membuat seorang anak merasa benar-benar dilihat dan dicintai. Dan pada akhirnya, itulah yang paling dibutuhkan setiap generasi—dulu, kini, dan nanti.

Butuh pendampingan langsung untuk bagian ini?

Konsultasi Sekarang

Artikel lainnya

Masih bingung memulai skripsi?

Konsultasikan penelitian Anda bersama Konco Lulus ID.

Konsultasi via WhatsApp